Abstrak masyarakatnya. Dongeng sendiri merupakan sebuah cerita yang

Abstrak

Tujuan dari papper ini adalah untuk mengetahui apakah
ada atau tidaknya pengaruh dongeng atau bercerita sebagai media untuk
pembentukan karakter anak. Dongeng merupakan salah satu kekuatan yang mampu
merubah pemikiran seseorang bahkan saat ini dongeng juga digunakan para
pemimpin terkenal untuk mempengaruhi masyarakatnya. Dongeng sendiri merupakan
sebuah cerita yang tidak benar-benar terjadi atau sebuah cerita khayalan, dan
Penanaman karakter adalah pemberian suatu pendidikan yang membentuk akhlak atau
moral serta budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

            Metode bercerita merupakan metode pembelajaran yang
dilakukan untuk mempermudah penyampaian sebuah pesan kepada anak. Dengan
menggunakan metode bercerita diharapkan anak usia dini lebih mudah memahami dan
menyerap segala sesuatu hal positif yang telah disampaikan dengan suasana yang
menyenangkan serta sekaligus belajar tentang beberapa hal baru.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan
merupakan lembaga yang dengan sengaja diselenggarakan untuk mewariskan dan
mengembangkan pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, dan keahlian oleh generasi
yang lebih tua kepada generasi berikutnya.1
Pendidikan karakter sendiri adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk
mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau
budi pekerti luhur. Sehingga Pendidikan karakter di nilai sangat penting untuk
di tanamkan dalam diri anak-anak sejak usia dini. Melalui pendidikan karakter
ini anak usia dini disiapkan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan
akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, seimbang, dan sesuai dengan
standar kompetensi lulusan.

Ø Dalam
prakteknya, pendidikan karakter harus memenuhi tiga proses, yaitu proses
pemberdayaan (empowering) potensi peserta didik, proses humanisasi (humanizing),
dan proses pembudayaan (civilizing). Sebagai proses pemberdayaan,
pendidikan karakter harus mendorong pemberdayaan dan pengembangan peserta didik
sehingga mereka menyadari dirinya sebagai makhluk yang mempunyai banyak
potensi.

Ø Sebagai
proses humanisasi, pendidikan karakter harus mampu menyadarkan manusia sebagai
manusia. Dengan demikian proses pendidikan tidak menjadikan peserta didik
sebagai objek atau robot bagi orang dewasa, tapi sebaliknya mendorong mereka
menjadi subjek yang bebas, mandiri, dan kritis.

Ø  Sebagai proses pembudayaan, pendidikan
karakter “membantu membangun sistem pengetahuan, nilai-nilai, sistem keyakinan,
norma-norma, tradisi atau kebiasaan, peraturan yang koheren dan berguna bagi
individu, sekolah, keluarga, masyarakat, dan bagi bangsa dan negara sebagai
satu kesatuan sehingga terbentuk kelompok masyarakat yang beradab.

 

Pendidikan karakter adalah mendidik
seseorang untuk memiliki prilaku yang baik sehingga prilaku itu menjadi ciri
kahsnya yang tidak bisa dipisahkannya dari dirinya dan kehidupannya. Karakter
yang baik itu telah menjadi bagian dari dirinya. Pendidikan karakter mempunyai
kaitan yang erat dengan pendidikan akhlak, bahkan obyek-obyek pembahasan dalam
kajian karakter itu adalah juga menjadi obyak bahasan dalam akhlak begitu juga
sebaliknya.

 

METODE
PENELITIAN

            Berdasarkan
permasalahan yang menjadi sentral penelitian, yaitu yang lebih menekankan pada
proses dan makna, maka jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan  penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan desain studi kasus, yaitu penelitian dengan kajian mendalam
tentang peristiwa, lingkungan dan situasi tertentu yang memungkinkan
mengungkapkan atau memahami sesuatu hal ( sulistyo-basuki 2006:113). Dalam
penelitian ini akan digambarkan mengenai fenomena dampak sebuah dongeng atau
bercerita terhadap pembentukan pendidikan karakter anak ketika dewasa

 

PEMBAHASAN

Karakter Anak
Terbentuk Melalui Kegiatan Mendongeng atau Bercerita

Karakter
 sama 
halnya  dengan  akhlak, dan 
akhlak  terpuji  mampu 
menjadikan seseorang  mulia,  besar, 
terkenal  dan menjadi  panutan 
manusia  sepanjang zaman,  Rasullullah 
SAW  meskipun beliau  seorang 
yang  tidak  bisa membaca, 
namun  sifatnya  yang 
mulia dan  dapat  dipercaya, 
menjadikannya pemimpin dan panutan ummatnya sejak beratus tahun  yang lalu 
sampai dengan saat  ini. Pendidikan  karakter 
berhubungan  dengan  perilaku, 
perilaku berhubungan erat dengan pola pikir dan emosi manusia, anak merupakan  pembelajar alamiah  yang 
baik  karena  sejak 
bayi pun  anak  mulai 
belajar  sendiri  untuk mengenal keadaan dirinya sendiri meskipun
gagal berkali-kali namun tetap berjuang maju dalam proses pembelajaran
alamiahnya itu, orang tualah yang dijadikan contoh berperilaku anak, ketika
orang tua berperilaku menyimpang maka pola pikir  dan 
emosi  anak terbentuk dan akhirnya
anak akan  meniru  perilaku menyimpang tersebut.

Teknik
mendongeng dan pemilihan bahan cerita yang baikpun harus mulai dipelajari oleh
orang tua agar anak mampu menyerap informasi yang disampaikan secara maksimal.
Dalam teori modeling yang dikemukakan albert bandura tahapan kognitif manusia
ada beberapa tahap yaitu perhatian, mengingat, reproduksi gerak dan motivasi. Mendongeng
menjadi berhasil ketika anak dapat focus memperhatikan isi cerita dan mengenal
baik tokoh yang diceritakan kemudian anak-anak akan mengingat isi cerita
tersebut dan disimpan di dalam memori otaknya, yang sewaktu-waktu dapat di
ambil kembali ketika diperlukan, setelah itu anak-anak akan menterjemahkan
memori cerita yang ada dalam otaknya dalam bentuk tingkah laku dimana tingkah
laku ini berdasarkan pada motivasi diri yang juga diperolehnya dari pesan
dongeng yang disampaikan.

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam
dongeng juga berpengaruh kepada tingkat kepuasan berprestasi yang dimiliki anak
ketika dewasa nanti, karena menurut David Mc Clelland dikatakan bahwa semakin
seseorang dengan Need for Achievement tinggi maka kepercayaan dirinya akan
tumbuh, optimis dalam menghadapai tugas berat yang dibebankan kepadanya.
Contohnya ketika menghadapi permasalahan berat individu dengan Need for
achievement tinggi akan mudah untuk bangkit kembali dan motivasi kebangkitan
ini dapat diambil dari informasi isi pesan dongeng telah
disimpan dalam memori otaknya sejak anak-anak. Jika pesan informasi yang
disampaikan adalah positif secara terus menerus maka secara otomatis terbentuk
karakter baik sehingga reproduksi gerak yang ditampakkanpun berupa perilaku
positif.

Penerapan
Metode Bercerita kisah dalam Pembentukan Karakter

 

Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan
tentang perbuatan atau sesuatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan
tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain.2

Metode bercerita adalah cara penyampaian atau penyajian
materi pembelajaran secara lisan dalam bentuk cerita dari guru kepada anak
didik. Bercerita merupakan hal
yang disenangi oleh semua manusia karena sebelum memiliki kemampuan
menyampaikan pesan melalui tertulis, mereka menyampaikan pesan secara lisan.

 Oleh karena itu, metode bercerita merupakan
metode yang mumpuni dalam menyampaikan pesan untuk mengubah akhlak, etika, budi
pekerti siswa dan itu menjadi awal pembentukan karakter yang baik untuk siswa.

Kitab-kitab moral setiap agama, khususnya di Indonesia,
memuat kisah-kisah atau cerita-cerita, baik tentang kisah para nabi atau
utusan, kisah peristiwa yang menimpa umat terdahulu, dan kisah-kisah yang
menimpa para nabi atau utusan tersebut. Itu semua disampaikan agar umat
mendapatkan penyadaran dan pembelajaran.

Menurut Bachri manfaat bercerita adalah dapat memperluas
wawasan dan cara berfikir anak, sebab dalam bercerita anak mendapat tambahan
pengalaman yang bisa jadi merupakan hal baru baginya.3

 

Sedangkan manfaat metode bercerita menurut Tadkiroatun, ditinjau dari
beberapa aspek sebagai berikut:4

a.   
Membantu
pembentukan pribadi dan moral anak

b.   
Menyalurkan
kebutuhan imajinasi dan fantasi

c.   
Memacu
kemampuan verbal anak

d.  
Merangsang
minat menulis anak

e.   
Merangsang
minat baca anak

f.    
Membuka
cakrawala pengetahuan anak

 

Manfaat bercerita dengan kata lain
adalah menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi sehingga dapat memperluas
wawasan dan cara berfikir anak, misalnya :

Ø
Bercerita dapat
berfungsi sebagai penggugah kreativitas anak-anak

Ø
Guru bisa
menyampaikan pesan-pesan, hikmah-hikmah dan pengalaman-pengalaman kepada
murid-muridnya

Ø
Disamping
memperkaya imajinasi anak, dongeng/bercerita pun menjadikan anak-anak merasa
belajar sesuatu, tetapi tak merasa digurui

Ø
salah
satu cara yang efektif mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan),
afektif (perasaan), social dan aspek konatif (penghayatan) anak-anak.

Ø
Dongeng/cerita
mampu membawa anak-anak pada pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah
dialaminya.

 

.

 

Bercerita ini dilaksanakan di awal pembelajaran karena hal
itu sangat sederhana dan dapat menarik alam bawah sadar siswa. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh  guru dalam menyampaikan cerita, yaitu: 5

a.   
Pertama, saat persiapan, memilih
materi cerita. Sebuah cerita yang berhubungan dengan tema atau topik
pembelajaran, baik cerita yang sudah terjadi atau yang sedang hangat
diceritakan orang atau diberitakan oleh media. Kemudian, kuasai alur ceritanya
dengan baik.

b.   
Kedua, Pengelolaan kelas untuk bercerita
yang terdiri dari Pengorganisasian siswa, penugasan kelas, disiplin kelas dan
pembimbingan siswa

c.   
Ketiga, Pengelolaan tempat untuk bercerita yang
terdiri dari penataan tempat untuk bercerita, posisi media, penataan ruang
cerita

d.   
Keempat, Strategi penyampaian yang terdiri dari :

Ø Strategi storytelling, merupakan
penceritaan cerita yang dilakukan secara terencana dengan menggunakan boneka,
atau benda-benda visual, metode ini bertujuan untuk menghasilkan kemampuan
berbahasa anak.

Ø strategi reproduksi cerita adalah
kegiatan belajar mengajar bercerita kembali cerita yang didengar

Ø strategi simulasi kreatif dilaksanakan
untuk memanipulasi kegiatan belajar sambil bermain dari penggalan dialog cerita
atau bermain peran membawakan tokoh-tokoh dalam cerita.6

 

Berikut
ini adalah cerita yang mampu untuk dapat melahirkan karakter pribadi positif
karena dari cerita ini menghasilkan pesan moral yang berguna untuk menumbuhkan
pendidikan karakter anak :

Kancil Nyolong Timun

 

Dikisahkan
mengenai sosok binatang kancil yang tinggal di hutan, karena kelaparan dan
cadangan makanan dihutan mulai kurang, maka kancil mencoba keluar dari hutan
dan mencari makanan di daerah perkebunan penduduk. Kancil yang sering berada di
perkebunan petani pada suatu hari dikejutkan oleh cicitan seekor burung pipit
yang sarangnya berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, burung tersebut
meminta tolong kepada kancil agar menyelamatkan sarang burung yang akan berada
dibalik semak-semak yang akan di bersihkan oleh petani. Kancilpun menyanggupi dengan cara
mengalihkan perhatian petani dengan kedatangannya hal itu menjadikan sang
petani mengejar Kancil dan melupakan keberadaan sarang burung tersebut.

Kancil
sering kali mencuri hasil perkebunan petani dan yang paling sering diambil adalah
mentimun , karena rasanya yang enak dan segar di mulut. Beberapa kali kancil
mengambil mentimun selalu sukses besar karena petani tidak menaruh curiga,
namun ketika memasuki masa panen sang petani mulai resah karena mentimun yang
sudah ditanamnya keberadaannya mulai berkurang, untuk itu dia mencoba untuk
menjaga kebunnya setiap hari sang petani ingin mengetahui siapakah yang telah
mencuri mentimunnya tempo hari, namun usahanya tetap gagal karena sang pencuri
tidak kunjung terlihat batang hidungnya dan mentimunnyapun tetap hilang dicuri.
Akhirnya sang petani mempunyai ide penjebakan yaitu dengan menggunakan mentimun
yang telah dilumuri oleh getah pohon nangka, hal itu dimaksudkan agar sang
puncuri ketika mengambil mentimun menjadi susah bergerak karena lengket.

Kemudian
ketika menjelang fajar sang kancil memulai aksinya dengan mengambil mentimun
jebakan tersebut, seketika kancilpun meronta-ronta dikarenakan lengket tidak
bisa bergerak, ternyata dibalik pohon sang petani muncul tiba-tiba dan
menangkap kancil menggunakan jarring. Akhirnya kancilpun di gelandang dan
dimasukkan kedalam kandang rumah petani. Kabar tertangkapnya kancil sudah
didengar oleh burung pipit , pipitpun kemudian pergi kerumah petani untuk
melihat keadaan kancil. Melihat kedatangan burung pipit kancilpun mendapat ide
untuk menipu petani lalu kancil meminta tolong agar burung pipit mau
menjatuhkan kotorannya di atas tubuhnya. Keesokan harinya sang petani di
bangunkan oleh bau tidak sedap yang berasal dari kandang kancil, ternyata tubuh
kancil sudah terbujur kaku dengan bau yang sangat menyengat. Sang petani pun
memutuskan untuk membuang bangkai kancil di dalam hutan. Seketika itu juga sang
kancil bangun dan berteriak kegirangan karena telah berhasil menipu sang
petani, kancil dan burungpun saling mengucapkan terimakasih.

 

KESIMPULAN

            Dari pemaparan diatas, dapat
disimpulkan bahwa bahwa metode bercerita adalah cara penyampaian atau penyajian
materi pembelajaran secara lisan dalam bentuk cerita. Bercerita merupakan hal
yang disenangi oleh semua manusia karena sebelum memiliki kemampuan
menyampaikan pesan melalui tertulis, mereka menyampaikan pesan secara
lisan.Oleh karena itu, metode bercerita merupakan metode yang mumpuni dalam
menyampaikan pesan untuk mengubah akhlak, etika, budi pekerti serta moral dan
itu menjadi awal pembentukan karakter yang baik untuk anak.

Manfaat bercerita dengan kata lain
adalah menyalurkan kebutuhan imajinasi dan
fantasi sehingga dapat memperluas
wawasan dan cara berfikir anak, misalnya :

Ø
Bercerita dapat
berfungsi sebagai penggugah kreativitas anak-anak

Ø
Disamping
memperkaya imajinasi anak, dongeng/bercerita pun menjadikan anak-anak merasa
belajar sesuatu, tetapi tak merasa digurui.

Ø
salah
satu cara yang efektif mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan),
afektif (perasaan), social dan aspek konatif (penghayatan) anak-anak.

Ø
Dongeng/cerita
mampu membawa anak-anak pada pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah
dialaminya.

 

Pembentukan
karakter seorang anak berhubungan dengan perkembangan kognitifnya ketika anak
melakukan proses belajar sosial (social Learning), anak belajar mengenal
dirinya melalui perilaku yang diperlihatkan lingkungan kepadanya terutama
perilaku dan perkataan orang tua, baik perilaku negative maupun positif. Isi pesan yang berada didalam
cerita dongeng, ternyata dapat tersimpan baik dalam memori anak dan dibawa
hingga dewasa. Isi pesan tersebut mampu dijadikan bahan referensi ketika memang
dibutuhkan oleh seseorang untuk mengambil keputusan dalam menyelesaikan
permasalahan hidup.

1Sutrisno, Pendidikan
Islam yang menghidupkan (Studi Kritis terhadap Pemikiran Fazlur Rahman).,
(Yogyakarta: Kota Kembang, 2006), hlm 51

2 Bachri, S Bachtiar, Pengembangan Kegiatan
Bercerita, Teknik dan Prosedurnya,
(Jakarta:
Depdikbud, 2005), hlm 10

3  Ibid, hlm 11

4 Tadkiroatun
Musfiroh, Bercerita Untuk Anak Usia Dini. (Jakarta:
Depdiknas,  2005), hlm 95

5 Tampubolon,  Mengembangkan Minat dan
Kebiasaan Membaca pada Anak. (Bandung : Angkasa,1991), hlm 11

6 Ibid, hlm 18