Titik yang sedang sukses mengalahkan lawannya di medan

Titik
Nadir

Keangkuhan membuatnya
membangkang pada perintah Tuhan untuk bersujud. Sebagai balasannya, Iblis diusir
dari surga, selanjutnya dijerumuskan ke dalam lembah neraka untuk selamanya. Meski
tercipta dari api, namun Iblis tetap tersiksa. Sebagai
permintaan terakhirnya “Ijinkan aku menggoda setiap manusia untuk berbuat
kejahatan agar aku tidak  kesepian di
negeri yang buruk itu.”

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Permohonan itu dikabulkan,
Iblis mendekap tubuh perempuan yang sedang frustasi. Dekapan yang sarat dengan
dendam. Darah keluar dari ulu hati seorang lelaki yang pernah ia cintai. Sang
Lelaki sudah tak berdaya, namun pisau yang ada di tangan sang perempuan terus
saja dihujamkan di leher, di bagian dada, serta
bagian-bagian tubuh lainnya.

“…Aku telah membunuhnya, dia
memang pantas mati. Aku telah membunuhnya…”

Berulang kali kata itu keluar
dari mulutnya, kadang terdengar keras namun kadang hanya seperti bisikan dimana
hanya dia dan Tuhan yang dapat mendengarnya. Dia tampak kesurupan.

Lelaki itu memang telah mati.
Sekujur tubuhnya bersimbah darah. Matanya membelalak namun tidak dapat melihat
siapa-siapa. Otaknya yang dulu cerdik, kini tak mampu menjelaskan kejadian yang baru saja menimpanya. Sekilas
dalam bibirnya yang pucat-pasi, tersirat
beberapa kata yang tak sempat diucapkan.

“Maafkan aku….”

Elen tidak bisa berlama-lama
di sana. Ia membiarkan mayat Dika tergeletak di atas lantai marmer yang
berwarna putih namun tiba-tiba menjadi merah oleh lumuran darah. Sebenarnya
Elen tak cukup kuat untuk menyaksikan pemandangan yang sedemikian mengerikan. Dimasukkannya pisau yang juga
berlumuran darah ke dalam tas kulit coklatnya, ia pun pergi tanpa pernah menoleh lagi.

“Selamat
tinggal penghianat, nikmatilah hari-hari burukmu di neraka sana.”

Demikian kata hatinya,
sebelum ia tahu
bahwa sebenarnya ia juga telah
menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam neraka, meski tanpa lewat “kematian”.

***

Elen terus berlari di atas
lorong sempit yang temaram. Ia tidak bisa memastikan bagaimana bentuk
perasaannya saat itu. Dia bukan prajurit yang sedang sukses mengalahkan
lawannya di medan perang, bukan pula pembunuh bayaran yang sebentar lagi akan berpesta atas kesuksesannya. Bahkan ia sangat tahu bahwa orang yang baru saja dibunuhnya
adalah seorang laki-laki tampan yang pernah ia cintai, sebelum kebencian meracuni hatinya.

Cinta dan benci adalah dua
rasa yang berbeda, tapi dalam satu hati, keduanya pun
bisa menyatu. Debaran jantung yang tak beraturan, helaan dan hembusan nafas
yang memburu, mengantar Elen masuk ke dalam kamar kostnya yang sempit. Pintu
ditutup rapat-rapat,
juga dikunci. Tubuhnya dihempas ke atas gelaran karpet lusuh berukuran satu setengah meter.

Paakhhh…!!!

Terdengar benturan yang cukup
keras, tapi tubuhnya sedang mati rasa. Tak ada tanda-tanda kalau ia kesakitan.
Bila jiwa sedang sakit maka raga hanyalah seogok tulang dan sekelumit kulit
kering yang tak punya rasa. Andai ada tempat lain yang bisa disandari selain
kamar itu, pasti Elen akan ke sana…

Lagu “Bring
me to Life” tak bisa membawanya pada
suasana yang sedikit lebih indah daripada himpitan rasa yang sedang
mengiris-iris jiwanya. Padahal stelan suaranya
sudah melewati kapasitas gendang-gendang telinga normal.

“Elen!!! tolong kecilkan suara musiknya, kami sedang baca buku.”.

Tapi seruan itu tak
dihiraukan, mungkin Elen lupa kalau ia berada di rumah kost yang terdiri dari
beberapa petak kamar, teman-temannya pasti
terganggu.

Pakh..pakh..pakh…!!!

Terdengar pintu dipukul cukup
keras, tapi Elen tak bergeming.

“Elen!!! buka pintunya, jangan jadi orang egois begitu…!!!” Yeny
berteriak di balik pintu.

Tapi semua percuma, kali ini
Elen tak bisa diajak kompromi, jangankan memahami perasaan orang-orang di
sekelilingnya, ia sendiri sedang kesulitan memahami perasaannya sendiri.

***

Keadaan buruk berlanjut
hingga esok hari. Bagai biola yang kehilangan dawai, tiba-tiba semua berubah
bagi Elen. Bangun pagi, mandi, sarapan dengan beberapa potong roti atau
sepiring nasi goreng, menyiapkan referensi mata kuliah, lalu bergegas ke kampus
yang jaraknya hanya beberapa meter dari kostnya sama sekali tak dilakukan pagi
itu. Padahal semua temannya sudah siap dengan semangat
yang tak berbelok… untuk sebuah masa depan. Elen terdiam, terkekang memeluk
lutut.

“Tidak ke kampus?”

“Sepertinya tidak… lagi malas.”

“Malas?”

“Iya saya lagi malas.”

Biasanya teman-teman Elen tak
berani berbicara panjang-panjang bila nada bicara Elen sedingin itu. Bak suhu di kutub utara-selatan, yang tersisa hanya
beku.

Ibarat seniman yang sedang
kehilangan imajinasinya, Elen kembali masuk ke dalam kamar. Tidak
ada sedikit pun pertimbangan untuk ke kampus. Ibarat sedang melompat dari atas
ketinggian, Elen kini hanya menunggu pada permukaan
mana tubuhnya akan terhempas.

Dalam keadaan telentang,
lagi-lagi Elen meraba perutnya. Ada
sesuatu di sana. Sebuah benda kecil seukuran kepalan tangan namun memiliki
gejolak kehidupan yang jelas. Sesekali benda itu seperti bergerak di dalam rahim Elen. Meski sangat pelan, tapi Elen bisa
merasakan betul kalau benda itu semakin membesar. Tak terasa air matanya
bercucuran, seperti mata air yang terkena pancul seorang
penggali sumur, air itu semakin deras, membawa endapan-endapan kegelisahan
dalam urat kehidupan Elen.

Tiga minggu lalu, dokter yang
memeriksa Elen memastikan kalau benda kecil itu adalah sebuah janin.

“Selamat, ini adalah hari
yang bahagia, tidak lama lagi ibu akan memiliki buah hati.”

Kata sang dokter
dengan penuh keyakinan. Spontan, Elen seperti
mendengar terompet sangkakala yang menandakan kalau sebentar lagi kehidupannya
akan kiamat. Ini
sangat menyakitkan. Elen belum menemukan sederet kisah manis dari masa depan yang
sering diimpikan.

“Maksud dokter?” Elen seakan ingin memprotes.

“Ibu sedang hamil. Tapi ibu tak perlu
khawatir, semuanya dalam keadaan baik. Kondisi ibu cukup sehat. Hanya saja, selama masa kehamilan ini, sebaiknya ibu mengurangi
aktifitas yang terlalu berat dan tidak banyak berpikir…
sebaiknya ibu juga mengkonsumsi suplemen demi mengindari hal-hal yang tidak
diinginkan bagi ibu dan janin yang ada dalam rahim ibu, sesekali… ibu juga harus…”

“Maaf saya buru-buru dokter…”
Elen sama sekali tidak tertarik mendengarkannya.

Sejak itu, hidup Elen memang
telah di gerbang kiamat. Apa yang telah dilakukan bersama Dika atas nama cinta,
akhirnya berbuah getir. Masa depan terkubur dalam kubangan lumpur nista yang
tak mudah untuk dilawan.

“Bagaimana kalau orang tuaku
mengetahui hal ini, pasti mereka tidak segan menghapusku dari keluarga.”

“Bagaimana kalau
teman-temanku mengetahui hal ini, pasti mereka akan menganggapku sebagai binatang
yang  telah diperhamba oleh birahi.”

“Kutukan yang menyakitkan,
petiklah buah kebodohanmu, telan dalam-dalam agar kamu paham arti sebuah dosa.”

Tapi yang paling menyakitkan
bagi Elen adalah ketika ia mendatangi Dika dan menceritakan apa yang telah
terjadi dengan dirinya.

“Saya Hamil”

“Hamil? hahaha kalau hamil
tunggu saja waktu yang tepat untuk melahirkan.”

 “Saya serius Dika, usia kehamilanku sudah tiga minggu.”

 “kamu
butuh waktu sembilan bulan untuk melahirkan, itu berarti kamu masih punya banyak waktu untuk
menunggu, sabar saja.”

Rupanya Dika memang tidak
ingin serius menanggapi masalah Elen, bahkan ia mempermainkan perasaannya.

“Aku ingin kamu bertanggung jawab dengan hal ini.”

Kesabaran Elen semakin terusik.

“Bertanggung jawab!?…pasti… pasti Elen!!! Berapa pun biaya persalinan
dan apa pun yang kau perlukan selama masa kehamilan akan saya tanggung, bilang
saja berapa uang yang kau butuhkan.”

Mungkin karena terbiasa
mengurusi bisnis sehingga Dika menganggap kalau masalah Elen adalah masalah
yang bisa diselesaikan dengan uang semata, atau mungkin karena memang tidak
ingin mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya pada Elen.

“Jangan pura-pura bodoh Dika.”

“Elen!!! Saya tidak bodoh,
kupikir kaulah yang bodoh ketika memintaku bertanggungjawab lewat sebuah
pernikahan, apa kita terlihat cocok?…ha…ha…tidak…tidak!!! Tidak ada
kesamaan di antara kita, semoga kau paham dengan kata-kataku tanpa harus
menghadirkan cermin di depan kita.”

Mulut Elen pun bungkam,
kata-kata Dika cukup sederhana untuk dimengerti. Lama
Elen terdiam sebelum bergumam seperti seorang yang berada dalam keadaan
sekarat.

“Aku sungguh memahami itu,
tadinya kupikir kau betul-betul mencintaiku sebagaimana yang sering kau ucapkan
setiap kita bertemu.”

Untuk pertama kalinya Elen
melihat siapa sesungguhnya Dika dalam rimba kehidupannya. Dika adalah monster
yang selalu bersembunyi di balik kata-kata manis dan simbol-simbol
perhatiannya. Elen mulai cerdas untuk memahami kalau selama ini Dika hanya
berpura-pura mencintainya. Ibarat kumbang, Dika hanya menganggapnya sebagai
kembang yang setiap saat bisa diisap madu dan nektarnya. Sayang kecerdasan itu
sudah terlambat, karena lembar-lembar mahkotanya telah robek oleh kenakalan
sang kumbang.

“Cinta…ha…ha… mulai detik ini dan untuk selamanya kau
harus menghapus kata-kata itu.”

Merasa tak punya harapan
apa-apa lagi, Elen pun berlalu di hadapan Dika.

“Iya Dika, mungkin saya harus
menghapus kata-kata itu.”

Ucap Elen sambil berusaha menahan air
matanya agar tidak tumpah di hadapan kesombongan Dika.

Pertemuan itulah yang
menyulap cinta Elen menjadi kebencian, mengubah kerinduan
menjadi dendam kesumat, tali kasih sayangnya putus oleh
pisau penghianatan. Entah siapa yang paling bersalah dalam hal itu, yang jelas bagi Elen, Dika adalah sosok yang paling
jahat dan mesti mendapat balasan yang setimpal.

Hal itu juga yang menyulut
api keberanian Elen untuk melakukan pembunuhan tadi malam.

Elen masih meraba perutnya.
Tak seorang pun mengetahui kehamilannya. Mayat Dika tentu tak bisa berkata
kepada siapa-siapa kecuali pada malaikat yang sedang mengadilinya di sana. Elen
juga tak punya keberanian untuk mengatakannya
pada siapa pun. Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah mempercayai dan
menuruti Dika. Padahal Elen datang di kamar kost yang sempit itu atas kepercayaan,
doa serta harapan orang tuanya.

“Jaga diri baik-baik, ingat
tugas utama kamu adalah kuliah dan belajar sungguh-sungguh agar suatu saat kamu bisa menjadi tulang punggung bagi keluarga kita.”

Kalimat itu selalu terucap
oleh bibir bapaknya setiap kali Elen pamit setelah melewatkan masa-masa
liburnya di kampung halaman. Demikian juga nasehat ibunya dalam percakapan
telepon yang biasa dilakukan untuk menawarkan kerinduan di antara mereka.

Tapi kini, Elen adalah Tulang
patah, yang tak bisa menopang apa-apa.

“Aku berdosa pada mereka,
kasih sayang mana yang bisa memafkanku…”

Elen mendesah sendiri sebab
buku-buku dan jendela di kamarnya hanya menjadi
saksi bisu, betapa muram alam takdirnya hari itu.

Bagi Elen, waktu berjalan
sangat relatif. Bila mengenang pembunuhan itu, waktu
berjalan terasa lamban bagai tetesan detik abad yang jatuh dan merembesi
kerikil kisahnya, namun bila menyadari usia kehamilannya, waktu seperti kilat
yang menyambar dan seketika melepuhkan sendi-sendi hidupnya. Tapi bagaimana pun perjalanan sang  waktu, Elen merasa kalau ia
sangat jenuh dengan kondisinya. Tidak ada pilihan, yang ada adalah rentetan
konsekuensi yang ganas. Elen tak berani menguntai harapan apa-apa lagi, sebab ia merasa kalau dosa yang telah
diperbuat memang telah menutup rapat pintu kasih sayang Tuhan. Ide Elen, hanya
diisi oleh bintik-bintik hitam dengan konfigurasi yang abstrak.

“Aborsi saja janinnya, buka
lembaran baru, dan semua akan kembali pada keadaan yang biasa-biasa saja.”

“Dasar licik, penilaian orang
bisa dikelabui, tapi bisakah kau membohongi nuranimu.”

“Lebih baik hidup dalam
penjara, mungkin di sana dosa-dosa bisa disucikan.”

“Mungkin ada sebintik hikmah
yang harus ditemukan.”

“Hikmah apa yang bisa kamu
dapatkan dari dosamu
itu”

“Mengakhiri hidup, mungkin bisa
mengakhiri penderitaan.”

“Tidak, itu justru akan
mempercepatmu menemui neraka.”

Lama-kelamaan bintik-bintik
hitam itu semakin ramai seperti sekumpulan tawon yang menyengat, sementara Elen
hanya sendiri. Teman-teman sekostnya kadang bertanya tentang apa yang
sebenarnya terjadi, tapi Elen selalu diam seribu kata.

Malam ketiga setelah
peristiwa pembunuhan itu, Elen bisa tertidur lebih cepat dari malam-malam
sebelumnya, entah peri mana yang datang membelai kelopak matanya. Tentu saja
hal itu menjadi anugerah yang tak terhitung
nilainya bagi Elen.
Dengan tidur, setidaknya Elen
bisa berlari dari ketidakpastian hidupnya.

Elen berdiri menyaksikan bola
cahaya yang melayang hanya beberapa meter di atas kepalanya. Wajahnya diterpa
cahaya kebahagiaan. Bibirnya tesenyum indah sebab cahaya itu mentransfer energi
kenikmatan ke dalam tubuhnya. Sesekali Elen memperhatikan bagian-bagian
tubuhnya, tampak semua berseri bagai kelopak mawar yang diterpa mentari pagi.
Angin yang berhembus pelan entah dari mana datangnya, membuat Elen merasakan
kesejukan yang luar biasa. Ia seperti bidadari yang bermain di taman kayangan.
Meski hanya sendiri, tapi Elen memang merasa kalau sudah tidak punya kekurangan
apa pun. Elen berada di dalam alam kesempurnaan. Lalu ia menari-nari dan sesekali
melakukan lompatan kecil, gerakannya begitu lembut seperti diperlambat agar
setiap detiknya bisa dinikmati dengan kepuasan. Di sana, Elen bisa melayang
tanpa tarikan gravitasi, tak hentinya ia tersenyum. Tidak ada setitik gundah
yang tersirat di setiap geraknya. Bola cahaya bergerak ke atas, tapi Elen
mengikutinya. Lama-kelamaan, Bola cahaya dan Elen semakin jauh
berada di atas ketinggian. Elen seperti dituntun untuk mendapatkan tempat di
nirwana. Tiba-tiba Elen punya hasrat untuk segera meraih bola cahaya itu.
Tangannya dijulurkan ke atas, dan jaraknya
semakin dekat…

“Cahaya itu adalah cahaya
kehidupan, aku harus meraihnya.”

Tapi sebelum tangannya
betul-betul meraih, tiba-tiba bola cahaya itu padam. Elen terjatuh dengan cepat
karena gravitasi mulai menariknya dalam kegelapan. Ia seperti pesawat yang
kehilangan kendali.

“Tidaaak…!!!”

Elen terjaga dari tidur
lelapnya. Ia bangkit dari pembaringan, jam tangannya menunjukkan pukul tujuh
pagi. Elen tak sempat memaknai mimpi yang baru saja dialaminya.

“Bola cahaya itu…”

Tiba-tiba terdengar ketukan
pintu yang sangat keras.

“Buka pintunya…!!!?”

Elen pun memenuhi permintaan itu, entah siapa yang mengucapkannya.

“Selamat pagi.”

Satu dari dua orang lelaki yang berdiri di depan pintu
kamar Elen memberi salam.

“Selamat pagi juga pak.”

Sambut Elen, sambil mengusap-usap mata agar
penglihatannya lebih jelas.

Dan akhirnya memang menjadi
jelas. Dua orang itu adalah anggota kepolisian yang ditugaskan untuk menangkap
Elen atas kasus pembunuhan Dika.

“Ibu harus ikut kami.”

Elen tak perlu berkata-kata
lagi. Ini adalah bagian dari jawaban atas detik-detiknya yang hambar. Elen
telah siap menelan segala resiko perbuatannya.

Proses terasa lebih cepat.
Dalam ruang penyidikan dan persidangan, Elen menjawab segala pertanyaan yang
ditujukan kepada dirinya seputar pembunahan yang dilakukan terhadap Dika. Tidak
ada yang dipungkiri, tidak ada yang ditutupi, tidak ada pengacara dan juga pledoi. Tidak ada banding dan
tidak ada permohonan Peninjauan Kembali atas kasusnya.

Lima belas tahun penjara.
Ketukan palu dari hakim yang mengadilinya, cukup jelas untuk menggambarkan
kisah Elen selanjutnya. Hidup di antara para penjudi, penipu, pencuri,
pemerkosa, atau pembunuh seperti dirinya. Makan seadanya, dengan gerak langkah
yang serba dibatasi. Sejujurnya, Elen merasa kurang adil dengan putusan itu.

“Bukankah saya membunuh orang
yang memang sepantasnya mati, Dikalah yang membunuhku, membunuh semua harapanku.”

Tapi hukum bukan soal
perasaan, hukum adalah persoalan barang bukti dan kesaksian. Untuk kesekian
kalinya Elen harus pasrah menghadapinya.

Air mata terus membasahi
wajahnya… mengantar dan menemaninya di balik jeruji yang pengap.

“Tidak usah ditangisi nak,
air mata tak mampu mengubah apa-apa.”

Seorang perempuan yang sudah
cukup tua menepuk pundak Elen lalu duduk di dekatnya.

“Waktu pertama kali
menginjakkan kaki di sini, saya juga menangis. Tapi lama-kelamaan saya
menyadari bahwa yang paling pantas kulakukan adalah menikmati sisa-sisa hidupku
dengan senyum, tak peduli pada tempat mana saya bersandar. Ini adalah bagian
pelengkap kesempurnaan cerita kehidupanku, di antara kegelisahan akan bilik
angkuh ini, setidaknya ada peluang untuk mengakhiri langkah-langkah yang penuh
dosa…”

Perempuan itu terus saja
bercerita. Kata-katanya seperti air yang menemukan jalan untuk mengalir.
Sementara Elen hanya terdiam, menyimak setiap kata yang didengarnya.

“Sudah Sepuluh tahun saya di
sini. Di luar sana, mungkin orang-orang menganggapku telah mati. Meski sejak kecil orang tuaku
selalu memberiku nasehat agar menjadi orang baik-baik, nyatanya saya menghabiskan banyak waktuku di penjara… kupikir orang tuaku tidak cukup cerdas
mendidikku…he…he… Tapi aku tak akan menyesali apa pun yang terjadi dalam hidupku, kupikir di sana juga banyak
orang yang memiliki nasib buruk.”

Elen semakin fokus dengan
kata-kata perempuan itu.

“Di sini… telah banyak
rambutku yang memutih, penghuni kamar ini pun telah banyak berganti. Ada yang
keluar dan ada yang masuk lagi. Tapi sebagian di antara mereka keluar dengan
membuat kesalahan baru, yakni dengan membayar sejumlah uang sebagai alat
peringan hukuman… dasar… kejahatan memang akan terus berlangusung sampai kapan
pun.”

“Mengapa ibu sampai
dipenjara?”

Akhirnya sebuah pertanyaan
terlontar dari mulut Elen.

“Aku membunuh suamiku sendiri.
Ia selingkuh dengan sekretarisnya di kantor. Bagiku
itu adalah dosa yang tak bisa kumaafkan. Selain rasa cemburu dan sakit hati,
kupikir aku membunuhnya untuk memberi pelajaran kepada laki-laki di seluruh
dunia bahwa kadang-kadang perempuan lebih kuat dari pada laki-laki.”

Jawabannya cukup datar namun sarat ketegasan.

Elen menjadi teringat dengan
apa yang telah ia lakukan terhadap Dika.

“Kamu sendiri mengapa hadir
di sini?”

Perempuan itu balik bertanya.

Aku juga telah membunuh
laki-laki yang telah mengkhianatiku.

“Itu berarti kau juga adalah perempuan sejati…

Iya, kita adalah perempuan
sejati…ha…ha…”

Tawa perempuan itu terdengar
keras dan memecah kesunyian penjara, saat
malam telah larut.

Kesejatian apa yang dimaksud
oleh perempuan itu. Elen hanya terpaku, sebab beberapa saat kemudian, perempuan
itu merebahkan tubuhnya di lantai yang tak beralaskan apa-apa. Mungkin dingin
mengisap energi-energi dalam tubuhnya, tapi perempuan itu terlihat damai dalam
tidurnya.

Beberapa Bulan kemudian…

Cinta masih memelekkan
matanya pada dunia. Ketulusannya memberi hujan pada gurun tandus, serta
menerangi lorong-lorong kegelapan takdir dengan cahayanya. Matahari masih
terbit dari timur, karenanya, hukum dan ketetapan masih berlaku. Dalam lukisan
cinta, setiap orang telah ditakdirkan menjadi warna-warni yang saling berpadu.
Ada warna yang cukup menyolok namun ada juga hanya sebatas titik, yang andai
titik itu dihapus, maka keagungan sang pembuat lukisan tidak
akan pernah berkurang.

Salah satunya lahir dari
rahim Elen. Tangisannya melengking seperti ingin melepuhkan jeruji dan meruntuhkan tembok-tembok penjara. Tangisan
yang menegaskan tentang kesiapan untuk berjalan dalam rimba kehidupan yang
sarat dengan tantangan. Ia datang mengecup naluri keibuan seorang Elen. Dalam
dekapan, dengan ubun-ubun yang haus dengan ciuman.

Elen menimang bayi laki-laki
itu.

“Maafkan ibu, karena ibu tak
sempat menyiapkan dunia yang indah buat kamu, anakku.”

Bayi itu diberi nama Beshari. Kehadirannya bagai mendung yang menjajikan hujan,
tatkala Elen dalam kegerahan dan kepenakan. Tapi semua hanya berhenti di
awan-awan, hujan itu masih jauh. Cobaan bagi Elen masih terus berlangsung.

“Ibu tidak boleh merawat bayi
ini di penjara.”

“Tapi ini anakku.”

“Kita diikat oleh aturan.”

“Aturan macam apa lagi?”

“Demi kebaikan dan
keselamatan anak ibu.”

“Jadi anak ini harus ke mana…”

“Untuk sementara biarlah ia
dititipkan pada panti
asuhan.”

Dipeluknya bayi itu
erat-erat, dengan air mata dan suara yang meratap. Sang anak tentu sangat tidak
paham dengan keharuan ibunya. Elen meraba sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah
kalung bersematkan hati dipasangkan pada leher buah hatinya. Hati itu
bertuliskan sebuah nama “Elen Lestari Atma Pratiwi”. Hanya benda kecil itu yang suatu saat diharapkan bisa mempertemukan
keduanya. Mungkin sekitar Lima
belas tahun yang akan datang. Elen menggenggam harapan itu kuat-kuat. Elen
mesti menyadari bahwa di antara satu harapan itu, ada sejuta kemungkinan yang
sama sekali tidak diinginkan.

Sekali lagi Elen memeluk
bayinya…